
Silaturahmi dan Maknanya
13 March 2010Saat saya hendak ngambil ijazah AKTA ke Sumedang, Mom and Dad sempet bilang, “telpon dulu, jangan sampai udah jauh-jauh kesana ternyata ga ada!” Tapi saya ga ngedengerin. Saya langsung berangkat dengan alasan ga ada yang bisa ditelpon. Dan dalam hati saya menegaskan, pengelola AKTA Tanjung Sari tempat saya kuliah, ga da hubungannya dengan ini. Justru karena dianya, saya jadi harus pergi ke Sumedang ngambil ijazah itu sendiri.
Dengan iringan angin kencang dan jatuhan air yang rintik2, satu setengah jam saya menempuh perjalanan dari Bandung ke Sumedang dengan motor. Setelah sampai di kampus STKIP, Sumedang, ternyata memang benar kata Mom and Dad. Ijazah AKTA ga bisa diambil karena pegawai Tata Usaha nya ga masuk. Dan anehnya, pegawai TU yang hanya dua orang itu, dua-duanya ga masuk!? Ya Allah, cobaan apa ini. Sesaat saya menyesal ga berusaha ngedengerin apa kata Mom and Dad.
Sebisa mungkin saya mencari jalan lain, dan jalan yang terpikirkan yaitu menelpon pengelola AKTA Tanjung Sari. Orang yang hampir buat saya kesal dan marah karena terus menunda2 ijazah yang seharusnya sudah bisa saya ambil. Lengkap dengan puluhan alasan berhawa UUD. Ya Allah, saya bersyukur karena dulu saya ga sampai nyinggung2 soal polisi dan media massa kepadanya akibat ulahnya itu. Setelah saya pikir, jika tempo hari kesal saya tidak terbendung, bisa2 saya sekarang kerepotan.
Memang benar, dalam islam, marah itu tidak pernah dicontohkan Rasululloh. Sahabat Ali bin Abi Thalib yang hendak memenggal leher seorang Yahudi yang sudah ada dihadapannya, tapi niat itu ia urungkan. Disebabkan karena Yahudi itu meludahi wajahnya, dan itu menimbulkan nafsu amarah dalam hati Ali. Dendam dan kebencian tidak akan membawa pada solusi dan akhir perjalanan.
Habis manis sepah dibuang, tapi ingat, bisa jadi suatu saat kelak kita akan sangat membutuhkan sepah itu. Terbukti sekarang, sepah yang saya pikir tidak akan saya temui lagi, tapi ternyata suatu kondisi menuntut saya untuk memungut kembali sepah itu. Orang yang telah berpisah dengan kita sekarang belum tentu kelak kita tidak akan bertemu lagi dengan orang itu. Karena itu jangan akhiri sebuah kisah dengan keburukan, karena bisa jadi Allah berkehendak kisah itu harus ada episode berikutnya.
Berbaik hatilah dengan setiap orang. Dan jangan sampai kita pilih2 dalam berteman. Dunia bukan kita yang mengatur, tapi Allah yang ngatur. Sampah menurut kebanyakan orang, belum tentu sampah menurut Allah. Ternyata jika Allah berkehendak, sampah itu bisa berubah menjadi emas. Saat itu
barulah kita sadar, bahwa kita sangat membutuhkannya. Persahabatan atau silaturahmi, bukan hanya didasarkan atas manfaat, tapi dasar utamanya adalah karena Allah yang perintahkan agar tidak membuatnya terputus. Silaturahmi merupakan suatu anugerah yang Allah berikan kepada setiap manusia. Silaturahmi adalah sebuah media, media berbagi kesedihan. Media berbagi kepedihan. Media berbagi kebahagiaan, suka dan cita. Khususnya media berbagi kebaikan.
We are live for them. We and they’re exist cause Allah want to.
They’re prove that we are alive …
Written by : Webhead
menyambung silaturahim, salah satu amalan yg bisa mengantarkan kita ke surga Allah..
“seseorang berkata: ‘Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang akan memasukkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahim’.” (HR.Al-Bukhari, 3/208-209, Muslim no. 13)
mmm … terimakasih teh, masukan yang bagus